Minggu, 24 Februari 2019

kesadaran

penghuni rumah tua,
beberapa bulan pasca palu koro
sebagai selter perjalanan hidupku,
mengukir siang dan malam,
 kini dia berjalan dengan gayanya,
rumah tua pintu para relawan bencana sulteng,
hidup bagaikan berjalan di alam liar,
 kita pun beregerak membuat bivak,
 sebagai wadah untuk berteduh,
 perjalanan menjadi komitmen hidup untuk mengenal jati diri siapa sebenarnya diri kita...!,
 kehidupan adalah warna warni dalam diri kita, yang mana akan menentukan jantung pilihan,
hal militan sebagai prinsip di beberapa waktu kemarin dalam atmosfer kampus,
 kota lembah sebagai anugrah dan rasa bersyukur duniawi,
 kitapun banyak menuangkan imaji tentang besarnya kebaikan pencipta,
hal duniawi adalah gambaran sikap kita di berbagai manusia yang manusiawi,
agar menjamin di hari berikutnya jika kesadaran kita selalu bersikap adil,
alampun akan berbagi rasa aman,
 jiwapun akan tenang,
 sebab alam hamba yang ikut menjaga keamanan dalam diri,
 sesuatu yang hidup pasti bernyawa,
 tetapi di lain waktu dia akan meninggalkan rumahnya,
 dan kembali bersamanya, yaitu sang pencipta
haripun kini berubah, berlahan-lahan getaran mulai menjauh,
 sebagai tanda bahwa bumi sudah tua.

Sang Penawar





Jadilah penawar yang dapat menetralkan racun,
jangan jadi penawar yang tidak dibutuhkan oleh racun
karena racun datang berdasarkan kebutuhan penawar.

Dia dalam bersandiwara



Di beberapa malam kemarin aku seperti kehilangan sejatinya dalam diri, bagaikan perahu tak sadarkan arah, sesuatu yang hilang dalam  diri, ketika kita ingin mengenalnya, dia baik-baik saja, dia melihatku, bahakan dia mengajarkan bagimana memahi jalannya jika ingin berjumpa dengannya, rasanya seperti hilangnya kebersamaan, hingga aku terus mencarinya agar ingin terus bersamanya, diapun tidak ingin dicari, sebab dia bukan dalam keinginan, dia adalah dia, bersandiwara dalam keinginan.







pada suatu hari ada yang bertanya kepadaku
kemudia dia bertanya kepadaku!
   siapa aku?
kemudian aku menjawabnya!
   kamu siapa?.



Waktu
Dalam diri manusia, kita banyak mengabaikan pelangi dalam diri
sebab dia  adalah warna warni kehidupan dalam waktu.

Sang Waktu
Sisipkan harianmu bersama nikmatnya waktu yang telah ku bagi,  sesungguhnya pembagian itu adalah bagian dari waktuku.

Sang Perasa
Bahkan diri mengalami pengaturan dalam berbagi rasa, baik dalam bentuk rasa pahit, asam, manis, dan lain sebagainya, bagi yang pandai merasa dia akan mengenalnya.

Banyak orang yang merasa pandai
tetapi tidak pandai merasa.

Kebaikan
Janganlah kamu merasa benar,  sesungguhnya kebenaran itu bukan pada kata benar, tetapi dia dalam sikap yang baik.